0
Sejarah kerajaan pajajaran by aryantidwi okta wandira
Selasa, 03 Desember 2013
Ipa Smanda3
Pakuan Pajajaran atau Pakuan
(Pakwan) atau Pajajaran adalah
ibu kota Kerajaan Sunda Galuh
yang pernah berdiri pada tahun
1030-1579 M di wilayah barat pulau
Jawa. Lokasinya berada di wilayah
Bogor, Jawa Barat sekarang. Pada
masa lalu, di Asia Tenggara ada
kebiasaan menyebut nama
kerajaan dengan nama ibu kotanya
sehingga Kerajaan Sunda Galuh
sering disebut sebagai Kerajaan
Pajajaraan. Lokasi Pajajaran pada
abad ke 15 dan abad ke-16 bisa
dilihat pada peta Portuguese
Colonial Dominions in India and
the Malay Archipelago –
1498-1580 yang dapat dilihat pada
link http://
www.themapdatabase.com/
category/location/asia/
indonesia/ . Sumber utama
sejarah yang mengandung
informasi mengenai kehidupan
sehari-hari di Pajajaran dari abad
ke 15 sampai awal abad ke 16
dapat ditemukan dalam naskah
kuno Bujangga Manik. Nama-
nama tempat, kebudayaan, dan
kebiasaan-kebiasaan masa itu
digambarkan terperinci dalam
naskah kuno tersebut. [1]
Raja-raja Pajajaran
Sri Maharaja Jayabhupati
(1030-????)
Raden Ikbar Faturrahman
(1766-1894)
Kehancuran
Pakuan Pajajaran hancur, rata
dengan tanah, pada tahun 1579
akibat serangan pecahan kerajaan
Sunda, yaitu Kesultanan Banten.
Berakhirnya zaman Kerajaan Sunda
ditandai dengan diboyongnya
Palangka Sriman Sriwacana
(singgahsana raja), dari Pakuan
Pajajaran ke Keraton Surosowan
di Banten oleh pasukan Maulana
Yusuf. Batu berukuran 200x160x20
cm itu diboyong ke Banten karena
tradisi politik agar di Pakuan
Pajajaran tidak dimungkinkan lagi
penobatan raja baru, dan
menandakan Maulana Yusuf adalah
penerus kekuasaan Sunda yang
sah karena buyut perempuannya
adalah puteri Sri Baduga Maharaja,
raja Kerajaan Sunda. Palangka
Sriman Sriwacana tersebut saat ini
bisa ditemukan di depan bekas
Keraton Surosowan di Banten.
Masyarakat Banten menyebutnya
Watu Gilang, berarti mengkilap
atau berseri, sama artinya dengan
kata Sriman. Saat itu diperkirakan
terdapat sejumlah punggawa
istana yang meninggalkan istana
lalu menetap di daerah Lebak.
Mereka menerapkan tata cara
kehidupan mandala yang ketat,
dan sekarang mereka dikenal
sebagai orang Baduy.
Toponimi Pakuan dan Pajajaran
Asal-usul dan arti Pakuan terdapat
dalam berbagai sumber. Di bawah
ini adalah hasil penelusuran dari
sumber-sumber tersebut
berdasarkan urutan waktu[2]:
1. Naskah Carita Waruga Guru
(1750-an). Dalam naskah berbahasa
Sunda Kuna ini diterangkan bahwa
nama Pakuan Pajajaran didasarkan
bahwa di lokasi tersebut banyak
terdapat pohon Pakujajar.
2. K.F. Holle (1869). Dalam tulisan
berjudul De Batoe Toelis te
Buitenzorg (Batutulis di Bogor),
Holle menyebutkan bahwa di
dekat Kota Bogor terdapat
kampung bernama Cipaku, beserta
sungai yang memiliki nama yang
sama. Di sana banyak ditemukan
pohon paku. Jadi menurut Holle,
nama Pakuan ada kaitannya
dengan kehadiran Cipaku dan
pohon paku. Pakuan Pajajaran
berarti pohon paku yang berjajar
("op rijen staande pakoe bomen").
3. G.P. Rouffaer (1919) dalam
Encyclopedie van Niederlandsch
Indie edisi Stibbe tahun 1919.
Pakuan mengandung pengertian
"paku", akan tetapi harus diartikan
"paku jagat" (spijker der wereld)
yang melambangkan pribadi raja
seperti pada gelar Paku Buwono
dan Paku Alam. "Pakuan" menurut
Fouffaer setara dengan "Maharaja".
Kata "Pajajaran" diartikan sebagai
"berdiri sejajar" atau
"imbangan" (evenknie). Yang
dimaksudkan Rouffaer adalah
berdiri sejajar atau seimbang
dengan Majapahit. Sekalipun
Rouffaer tidak merangkumkan arti
Pakuan Pajajaran, namun dari
uraiannya dapat disimpulkan
bahwa Pakuan Pajajaran menurut
pendapatnya berarti "Maharaja
yang berdiri sejajar atau seimbang
dengan (Maharaja) Majapahit". Ia
sependapat dengan Hoesein
Djajaningrat (1913) bahwa Pakuan
Pajajaran didirikan tahun 1433.
4. R. Ng. Poerbatjaraka (1921).
Dalam tulisan De Batoe-Toelis bij
Buitenzorg (Batutulis dekat Bogor)
ia menjelaskan bahwa kata
"Pakuan" mestinya berasal dari
bahasa Jawa kuno "pakwwan" yang
kemudian dieja "pakwan" (satu
"w", ini tertulis pada Prasasti
Batutulis). Dalam lidah orang
Sunda kata itu akan diucapkan
"pakuan". Kata "pakwan" berarti
kemah atau istana. Jadi, Pakuan
Pajajaran, menurut Poerbatjaraka,
berarti "istana yang
berjajar"(aanrijen staande hoven).
5. H. ten Dam (1957). Sebagai
seorang pakar pertanian, Ten Dam
ingin meneliti kehidupan sosial-
ekonomi petani Jawa Barat dengan
pendekatan awal segi
perkembangan sejarah. Dalam
tulisannya, Verkenningen Rondom
Padjadjaran (Pengenalan sekitar
Pajajaran), pengertian "Pakuan"
ada hubungannya dengan
"lingga" (tonggak) batu yang
terpancang di sebelah prasasti
Batutulis sebagai tanda kekuasaan.
Ia mengingatkan bahwa dalam
Carita Parahyangan disebut-sebut
tokoh Sang Haluwesi dan Sang
Susuktunggal yang dianggapnya
masih mempunyai pengertian
"paku".
Ia berpendapat bahwa "pakuan"
bukanlah nama, melainkan kata
benda umum yang berarti ibu kota
(hoffstad) yang harus dibedakan
dari keraton. Kata "pajajaran"
ditinjaunya berdasarkan keadaan
topografi. Ia merujuk laporan
Kapiten Wikler (1690) yang
memberitakan bahwa ia melintasi
istana Pakuan di Pajajaran yang
terletak antara "Sungai Besar" dan
"Sungai Tanggerang" (sekarang
dikenal sebagai Ci Liwung dan Ci
Sadane). Ten Dam menarik
kesimpulan bahwa nama
"Pajajaran" muncul karena untuk
beberapa kilometer Ci Liwung dan
Ci Sadane mengalir sejajar. Jadi,
Pakuan Pajajaran dalam
pengertian Ten Dam adalah
Pakuan di Pajajaran atau "Dayeuh
Pajajaran". Sebutan "Pakuan",
"Pajajaran", dan "Pakuan Pajajaran"
dapat ditemukan dalam Prasasti
Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan
nomor 3 bisa dijumpai pada
Prasasti Kebantenan di Bekasi.
Dalam naskah Carita Parahiyangan
ada kalimat berbunyi "Sang
Susuktunggal, inyana nu nyieunna
palangka Sriman Sriwacana Sri
Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di
Pakwan Pajajaran nu mikadatwan
Sri Bima Punta Narayana Madura
Suradipati, inyana pakwan
Sanghiyang Sri Ratu Dewata" (Sang
Susuktunggal, dialah yang
membuat tahta Sriman Sriwacana
(untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu
Penguasa di Pakuan Pajajaran yang
bersemayam di keraton Sri Bima
Punta Narayana Madura Suradipati,
yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu
Dewata). Sanghiyang Sri Ratu
Dewata adalah gelar lain untuk Sri
Baduga. Jadi yang disebut "pakuan"
itu adalah "kadaton" yang bernama
Sri Bima dan seterunya. "Pakuan"
adalah tempat tinggal untuk raja,
biasa disebut keraton, kedaton
atau istana. Jadi tafsiran
Poerbatjaraka lah yang sejalan
dengan arti yang dimaksud dalam
Carita Parahiyangan, yaitu "istana
yang berjajar". Tafsiran tersebut
lebih mendekati lagi bila dilihat
nama istana yang cukup panjang
tetapi terdiri atas nama-nama yang
berdiri sendiri. Diperkirakan ada
lima (5) bangunan keraton yang
masing-masing bernama: Bima,
Punta, Narayana, Madura dan
Suradipati. Inilah mungkin yang
biasa disebut dalam peristilahan
klasik "panca persada" (lima
keraton). Suradipati adalah nama
keraton induk. Hal ini dapat
dibandingkan dengan nama-nama
keraton lain, yaitu Surawisesa di
Kawali, Surasowan di Banten dan
Surakarta di Jayakarta pada masa
silam. Karena nama yang panjang
itulah mungkin orang lebih senang
meringkasnya, Pakuan Pajajaran
atau Pakuan atau Pajajaran. Nama
keraton dapat meluas menjadi
nama ibu kota dan akhirnya
menjadi nama negara. Contohnya :
Nama keraton Surakarta
Hadiningrat dan Ngayogyakarta
Hadiningrat, yang meluas menjadi
nama ibu kota dan nama daerah.
Ngayogyakarta Hadiningrat dalam
bahasa sehari-hari cukup disebut
Yogya. Pendapat Ten Dam (Pakuan
= ibu kota ) benar dalam
penggunaan, tetapi salah dari segi
semantik. Dalam laporan Tome
Pires (1513) disebutkan bahwa
bahwa ibu kota kerajaan Sunda itu
bernama "Dayo" (dayeuh) dan
terletak di daerah pegunungan,
dua hari perjalanan dari pelabuhan
Kalapa di muara Ciliwung. Nama
"Dayo" didengarnya dari penduduk
atau pembesar Pelabuhan Kalapa.
Jadi jelas, orang Pelabuhan Kalapa
menggunakan kata
"dayeuh" (bukan "pakuan") bila
bermaksud menyebut ibu kota.
Dalam percakapan sehari-hari,
digunakan kata "dayeuh",
sedangkan dalam kesusastraan
digunakan "pakuan" untuk
menyebut ibu kota kerajaan.
Karena lokasi Pakuan yang berada
di antara dua sungai yang sejajar
maka Pakuan disebut juga
Pajajaraan.
Artikel Terkait:
Langganan:
Posting Komentar (Atom)



0 komentar:
Posting Komentar